Soroti Gibran Jadi Bacawapres: Nepotisme, Dinasti Politik, Cedera Demokrasi

Putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka yang diusung sebagai bakal calon wakil presiden (cawapres) 2024 menemani Prabowo Subianto, mendapatkan sorotan media Internasional.

Sebagian besar media menginfokan pemilihan Gibran sebagai cawapres 2024 yaitu komponen dari nepotisme dan upaya membangun slot77 gacor dinasti politik yang bisa merusak pelaksanaan demokrasi.

Berikut review media asing yang menyoroti pencalonan Gibran sebagai cawapres pada Pilpres 2024:

1. AP News: Prabowo memerlukan Jokowi

Dalam tulisan berjudul “Indonesia’s leading presidential hopeful picks Widodo’s son to run for VP in 2024 election”, Minggu (22/10/2023), AP News menginfokan pencalonan buah hati sulung Presiden Jokowi sebagai cawapres pada Pilpres 2024.

Keputusan itu diumumkan oleh Mantan Jenderal Pasukan Khusus yang sekarang menjabat sebagai Menteri Pertahanan sekalian Ketua Awam Partai Gerindra, Prabowo Subianto, Minggu.

AP News juga menyinggung usia Gibran yang masih terbilang muda, yaitu 36 tahun. Usia itu sempat menjadi hambatan Gibran untuk maju pada kontestasi Pilpres 2024 sebab persyaratan batas minimal usia pencalonan diri yaitu 40 tahun.

Tapi, Mahkamah Konstitusi (MK), yang diketuai oleh ipar Presiden, membikin keputusan yang memungkinkan mereka yang belum berusia 40 tahun namun pernah menjabat atau terpilih sebagai pemimpin daerah untuk mencalonkan diri pada Pilpres 2024.

Keputusan itu menuai kontroversi sebab membuka jalan bagi Gibran untuk terlibat di kontestasi Pilpres 2024. Para pakar mengkritik bahwa putusan itu telah mencederai pelaksanaan demokrasi.

Peneliti di Centre for Strategic and International Studies, Dominique Nicky Fahrizal mengatakan, elektabilitas Jokowi masih sungguh-sungguh tinggi sehingga diperlukan oleh Prabowo dalam mendulang bunyi pada Pilpres 2024.

Pasangan Prabowo-Gibran dilansir bersepakat akan melanjutkan agenda-agenda Jokowi sebagai upayanya meraih simpati dan dukungan Jokowi.

Di sisi lain, Jokowi yang telah menjadi Presiden Indonesia selama 2 jangka waktu itu ingin penggantinya bisa melanjutkan agenda-agendanya.

“Jokowi memerlukan skenario untuk melanjutkan apa yang telah direncanakan oleh pemerintahannya,” kata Fahrizal.

“Ia ingin penggantinya yaitu orang yang ia pilih,” imbuh ia.

Tentang Penulis

admin7