Umur Tol MBZ Berpotensi Tidak Sampai Dengan 75 Tahun Untuk Kedepan

Spesialis Teknik Struktur dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Andreas Triwiyono menceritakan terdapat potensi Jalan Tol MBZ atau Sheikh Mohammed bin Zayed Jakarta-Cikampek (Japek) II tidak menempuh umur 75 tahun. Hal ini karena mutu beton yang tidak layak dengan standar nasional Indonesia (SNI).

“Jikalau tidak salah jalan layang wajib dapat bertahan 75 tahun. Tetapi jika mutunya tidak layak, ada potensi tidak menempuh umur itu,” ujar Andreas dalam sidang pemeriksaan ahli dugaan kasus korupsi pembangunan Jalan Tol Layang MBZ di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dikutip dari Antara, Selasa (4/6/2024).

Hasil pengujian itu pun dibetuli slot minimal depo 5k oleh Andreas lantaran layak dengan perbandingan yang dia lakukan, mutu beton Tol Layang MBZ tidak layak spesifikasi.

Dia membeberkan umur struktur jalan layang dapat layak agenda tidak cuma diberi pengaruh oleh situasi awal saja, namun juga diberi pengaruh oleh beraneka pemeriksaan, pembenaran, ataupun pemeliharaan selama bangunan beroperasi.

Salah satu situasi yang dapat memberi pengaruh umur hal yang demikian, kata dia, yakni mutu beton lantaran berdampak terhadap struktur jalan layang secara keseluruhan, terpenting struktur atas yang menyatu dengan komponen lain.

Andreas mencontohkan salah satunya, yakni beton menyatu dengan struktur girder (balok) baja sebagai satu kesatuan.

“Jikalau mutu betonnya tidak layak dengan spesifikasi, tentu saja akan berdampak terhadap bajanya tadi. Beton itu kan tidak berdiri sendiri,” tuturnya.

Andreas yakni salah satu ahli yang dipinta keterangannya dalam persidangan dugaan kasus korupsi pembangunan Jalan Tol MBZ Japek II Elevated Ruas Cikunir-Karawang Barat dengan terdakwa Direktur Utama PT Jasamarga Jalan layang Cikampek (JJC) jangka waktu 2016-2020 Djoko Dwijono, Ketua Panitia Lelang JJC Yudhi Mahyudin, Direktur Operasional II PT Bukaka Teknik Utama Tbk. (BUKK) Sofia Balfas, serta energi ahli jembatan PT LAPI Ganesatama Consulting Toni Budianto Sihite.

Sebelumnya, Djoko Dwijono didakwa merugikan keuangan negara senilai Rp510 miliar dalam kasus korupsi hal yang demikian, yang dilakukan bersama-sama dengan Sofiah Balfas, Tony Budianto Sihite, dan Yudhi Mahyudin.

Keempatnya didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 perihal Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Kendaraan Berat Tidak Boleh Melintasi Tol MBZ, Mengapa?
Direktur Politeknik Transportasi Darat Indonesia (PTDI) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Pandu Yunianto menegaskan, pengontrolan kendaraan terpenting bagi kendaraan berat di Jalan Tol Sheikh Mohammed bin Zayed (MBZ) tidak ada kaitannya dengan persoalan mutu struktur atau konstruksi jalan layang hal yang demikian.

Pandu menjabat sebagai Direktur Lalu Lintas Jalan Kemenhub dikala pengerjaan penggarapan dan penyelesaian Tol MBZ Jakarta-Cikampek (Japek) II Elevated Ruas Cikunir-Karawang.

“Berkaitan dengan struktur kami tidak tahu, sehingga pertimbangan kami tidak terkait dengan persoalan struktur. Pertimbangannya yakni aspek keselamatan dan aspek kelancaran,” ujar Pandu dikala dihadirkan sebagai saksi dalam perkara korupsi proyek pembangunan Tol Layang MBZ di Pengadilan Negeri Jakarta Sentra, Selasa (21/5).

Pandu membeberkan, larangan kendaraan besar, yakni bus dan truk itu sudah dibahas dalam rapat bersama antara Kemenhub, Korlantas Polri, dan Badan Penguasaan Jalan Tol (BPJT).

Hasil rapat itu kemudian diwujudkan rekomendasi yang wajib diaplikasikan sebelumnya Tol Layang MBZ sah dioperasikan pada 2019. Pertimbangannya, sambung Pandu, data kasus kecelakaan yang di jalan tol. Pada dikala itu, cukup banyak kasus kecelakaan di tol yang diakibatkan oleh truk dan bus.

Tentang Penulis

admin7