Wanita Petugas Kebersihan di Inggris Dipecat Karena Makan Sisa Sandwich

Seorang petugas kebersihan di https://lasantane.com/ Inggris dipecat oleh sebuah firma hukum ternama di London dikarenakan memakan sisa sandwich tuna yang ditemukan di ruang rapat. Wanita bernama Gabriela Rodriguez, berasal berasal dari Ekuador, bekerja di Devonshires Solicitors selama dua tahun. Akibat dipecat, dia mengambil tindakan hukum terhadap perusahaan tersebut.

Serikat pekerja United Voices of the World, yang mewakili hak-hak pekerja migran, menunjukkan bahwa Rodriguez dipecat lebih dari satu hari sebelum Natal th. lalu. Pemecatan dilakukan sehabis kontraktor Total Clean terima keluhan bahwa sisa sandwich tidak dikembalikan.

Mereka membenarkan bahwa Rodriguez makan sandwich senilai 1,50 euro atau kurang lebih Rp 30 ribu. Ia mengira roti lapis itu bakal dibuang sehabis rapat para pengacara berakhir. Namun menurut website hukum RollOnFriday, wanita tersebut dipecat dikarenakan mengambil properti klien tanpa izin atau alasan yang masuk akal.

Serikat pekerja mengklaim bahwa pemecatan Rodriguez adalah tindakan diskriminasi. Ia dipecat antara lain dikarenakan orang Amerika Latin bersama dengan kekuatan bahasa Inggris yang terbatas, sehingga perusahaan tidak bakal mengeluh kembali berkenaan dia.

Untuk memprotes pemecatannya dan sehingga dia dipekerjakan kembali, lebih dari satu pekerja serikat pekerja berkumpul di luar kantor firma hukum terhadap 14 Februari 2024. Mereka berunjuk rasa bersama dengan mempunyai 100 kaleng tuna, 300 sandwich bungkus tangan, lebih dari satu balon helium berbentuk hati, dan juga surat cinta untuk Rodriguez.

Rodriguez menjelaskan bahwa mengambil sisa makanan untuk makan siang adalah perihal yang umum terjadi. “Pada hari biasa, lebih dari satu sandwich ditinggalkan di kantin sehabis pertemuan pengacara; itu adalah praktek umum bagi orang-orang untuk mengambil makanan untuk diri mereka sendiri kala makan siang. Saat itu hampir di akhir giliran kerja saya, pukul dua tidak cukup seperempat. Saya mengambil satu dan menaruhnya di lemari es. Seminggu kemudian, saya dipanggil 15 menit sebelum giliran kerja saya berakhir. Saya lantas diskors tanpa bayaran sambil menunggu penyelidikan lebih lanjut,” katanya.

Petros Elia, sekretaris jenderal United Voices of the World, menjelaskan bahwa pemecatan terhadap petugas kebersihan sering dilakukan dikarenakan alasan sepele. “Diskriminatif layaknya ini tiap tiap hari di seluruh negeri. Banyak yang menggambarkan perasaan diperlakukan ‘seperti kotoran yang mereka bersihkan’. Gabriela adalah tidak benar satu berasal dari mereka. Kami bakal bersuara dan bersatu untuk melawan perusahaan mana pun, apalagi perusahaan besar yang kuat layaknya Devonshires Solicitors,” ujar Elia.

Ia melanjutkan, cuma dikarenakan bersihkan kotoran mereka, tidak artinya para klien dapat memperlakukan pekerja rendahan layaknya kotoran. “Kami menuntut rasa hormat, martabat dan kesetaraan, tanpa melihat bahasa yang digunakan, negara asal, atau warna kulit kami,” ujarnya.

Dia memberikan bahwa mereka bakal mempunyai ke dua perusahaan ke pengadilan ketenagakerjaan dikarenakan diskriminasi ras.

Juru berkata Total Clean menjelaskan bahwa Info yang diberikan oleh mantan karyawan tersebut menyesatkan dan tidak akurat. “Semua cara yang disita telah sesuai bersama dengan undang-undang ketenagakerjaan Inggris sehabis melalui sistem investigasi dan disipliner yang tepat. Kami tidak bakal memberikan komentar lebih lanjut berkenaan persoalan ini,” kata Total Clean.

Adapun firma hukum London Devonshires Solicitors itu menunjukkan bahwa mereka tidak mengajukan “keluhan resmi” terhadap Rodriguez dan tidak menghendaki Total Clean untuk mengambil tindakan apa pun.

“Total Clean lakukan penyelidikannya sendiri dan keputusan memecat Gabriela tanpa masukan atau efek apa pun berasal dari Devonshires. Ini adalah persoalan teristimewa antara Total Clean dan Gabriela,” ujar firma hukum itu.

Tentang Penulis

admin6